Opini

Stunting

grafik1

BAHAYA LATEN DI DEPAN MATA 

Waspadai bahaya stunting, brosur kecil mampir di halaman WA, berisikan ajakan untuk bersama-sama mewaspadai ancaman stunting di Indonesia. Cukup lama memperhatikan pesan itu sambil mengingat-ingat kembali referensi istilah tersebut dari kotak penyimpanan ingatan, dikepala ini. Aahhaaa, yang pertama muncul justru bayangan tanaman kerdil, bonsai. Seperti itukah maksudnya?, manusia kerdil.

Yaaaa, ternyata yang dimaksud dengan stunting tidak lain adalah kondisi keterhambatan pertumbuhan fisik yang dialami oleh anak di usia balita; baik ukuran panjang maupun berat badannya kecil, diluar normal. Atau, mungkin padanan kata yang lebih familiar sama dengan cebol atau pendek. Gejala itu dapat dideteksi sedini mungkin sampai mencapai kira-kira usia 2 tahunan.

Dalam istilah kesehatan, stunting terbagi atas 2 kriteria, yaitu sangat pendek dan pendek. Ada 4 cara untuk mengetahui apakah balita termasuk pendek tidaknya, pertama dengan memperhitungkan berat badan menurut umum (BB/U); kedua, panjang badan menurut umur (PB/U); ketiga, berat badan menurut panjang badan (BB/PB), dan; keempat IMT menurut umur. Rumusannya jika < -3 SD termasuk sangat pendek, sedang < -3 SD – < 2 SD, masuk dalam kategori pendek.

Faktor yang mempengaruhi keterhambatan pertumbuhan tersebut tidak ada sama sekali hubungannya dengan ‘gen’, tetapi lebih disebabkan oleh permasalahan gizi dan sering sakitnya balita sebelum mencapai usia 2 tahun. Oleh karenanya asupan gizi pada saat ibu hamil dan setelah melahirkan sangat penting untuk diperhatikan. Ini pula mengapa seyogyanya dianjurkan balita untuk mendapatkan ASI sampai batas waktu disapih.

Menurut litelatur, gejala stunting masih dimungkinkan diintervensi sebelum balita mencapai usia 2 tahun, saat pertumbuhan tubuhnya masih cepat berubah. diatas usia 2 tahun kemungkinan masih bisa ditangani, meski tentunya agak berat. Bahaya stunting bagi balitas, disamping membuat balita rentan terhadap kematian, juga perkembangan mental dan fisiknya akan terganggu; konon untuk IQ 5-10 poin lebih rendah dari normal.

Mengapa kita perlu mewaspadainya? Hal itu tentu ada kaitannya dengan potret gizi Indonesia yang sangat memprihatinkan. Dari 496 Kab/kota yang dianalisis, 404 Kab/Kota mempunyai permasalahan gizi yang bersifat akut-kronis; 20 Kab/Kota mempunyai permasalahan gizi yang bersifat kronis; 63 Kab/Kota mempunyai permasalahan gizi yang bersifat akut; dan 9 Kab/Kota yang tidak ditemukan masalah gizi.

Yang kemudian membuat tercenung, ternyata banyak juga jumlah balita pendek, penderita stunting di Indonesia, yakni sekitar 7,8 juta dari 23 juta balita atau sekitar 35,6% (18,5% sangat pendek; 17,1% pendek). Bahkan data terakhir sekitar 37,2%. Padahal, batas toleransi stunting yang disepakati WHO maksimal 20% atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita. Sungguh memprihatinkan mengingat, mereka, balita yang kondisi stunting itu juga merupakan bagian dari generasi masa depan. Bisa kita bayangkan bagaimana pengaruhnya jika lebih dari sepertiga bibit generasi muda kita ke depan kondisinya jauh dari prima.

Kita berharap, permasalahan gizi dan imbas darinya yakni, stunting bisa menjadi salah satu prioritas dalam kebijakan politik Pemerintah disamping peran dan partisipasi masyarakat, terutama yang tergabung dalam organisasi masyarakat sipil. Sebab, jika terabaikan, sulit sepertinya Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dikemudian hari. Bagaimana tidak? sepertiga anak bangsa bermasalah dengan pertumbuhannya. Adalah wajar bila stunting dapat kita golongkan sebagai bahaya laten di depan mata kita dan wajib kita perangi.

 Salam.