Inspirasi

Tembus Pasar Malaysia

ARSSELIYAH, SERUNDENG LAMONGAN DOBRAK PASAR MALAYSIA

Lamongan– Berawal dari berbagi, siapa sangka bahan pangan sederhana yang dipasarkan pelajar asal Lamongan ini bisa diminati hingga ke Malaysia.

Arsseliyah Nur Ainni (17) mengaku stok iwak kali atau ikan air tawar di tempat tinggalnya selalu melimpah. Ia pun mencoba membuat salah satu panganan yang berbeda dari bahan tersebut, yaitu serundeng.

“Saya melihat kalau selama ini saat panen raya ikan, ikan air tawar seperti mujair, bandeng atau ikan-ikan lainnya itu melimpah. Lalu saya kepikiran untuk membuat serundeng ikan, karena ibu saya pernah membuat yang serupa,” kata Arsseliyah.

Cara membuat serundeng ini pun tak rumit. Arsseliyah hanya mengaku membutuhkan daging ikan yang sudah diasap untuk kemudian diolah.

“Setelah daging ikan diasap kemudian ditambahkan bumbu untuk digoreng hingga siap saji dan dikemas,” terangnya.

Pembuatan serundeng ini sebenarnya sudah ditekuni Arsseliyah sejak masih duduk di bangku SMP. Namun begitu masuk SMA, Arsseliyah mulai serius mengelola bisnisnya, terutama mengubah kemasannya agar lebih menarik.

Lantas bagaimana serundeng bikinan Arsseliyah bisa merambah hingga ke Negeri Jiran? Pelajar kelas XI SMA Negeri 1 Lamongan ini mengaku kadangkala memberikan serundeng itu kepada para tetangga.

Tak tahunya, serundeng-serundeng itu kemudian kerap dibawa para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebagai oleh-oleh ketika kembali ke Malaysia. Order pun bertambah.

“Dari sini kemudian ada niatan saya untuk membantu orang tua dari segi ekonomi,” ujar Arsseliyah.

Putri sulung pasangan Sumarliah dan Sutiowadi ini mengatakan, karena baru dipasarkan ke Malaysia sehingga cita rasanya juga disamakan dengan cita rasa orang Malaysia. Dalam sebulan, Arsseliyah rata-rata bisa mengirim setidaknya 500 hingga 1.000 boks serundeng iwak kali ke Malaysia setiap pekannya.

“Untuk saat ini, saya mengirim ke Malaysia masih tergantung pesanan. Sana minta berapa ya kita kirim sesuai permintaan. Untuk ikan segar biasanya saya juga dibantu oleh tetangga,” terang Arsseliyah

Di Malaysia, penganan bikinannya dijual seharga RM 12 untuk tiap satu pak atau boks. Arsseliyah juga mengemas serundengnya dalam dua jenis kemasan berdasarkan beratnya, yaitu 120 gram dan 70 gram.

Dari bisnisnya ini, Arsseliyah telah mengantongi omzet kotor sebesar Rp 30 juta perbulan. Tak hanya itu, kiprahnya juga diganjar berbagai penghargaan seperti Pemuda Pelopor tingkat Lamongan pada tahun 2018.

Dimas Tunggul Panuju yang selama ini membina Arsseliyah dalam kegiatan wirausahanya mengaku warga Desa/Kecamatan Karanggeneng ini memiliki daya tangkap cepat dan punya bibit ide yang cemerlang.

Dimas pun hanya tinggal membina Arsseliyah dalam hal membuat proposal bisnis, desain kemasan dan juga mengenalkan Arsseliyah ke beberapa pelaku UKM.

“Saat ini, Arselliyah juga sedang ikut ajang bergengsi bagi wirausahawan muda di Jogja,” terang Dimas.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Muhajir menambahkan, Arsseliyah juga akan mendapatkan penghargaan Pemuda Utama tahun 2018 untuk bidang Kreatif kewirausahaan dari Gubernur Jatim. Penghargaan ini akan diberikan langsung oleh Gubernur saat peringatan Hari Sumpah Pemuda di Gedung Grahadi.

“Apa yang dilakukan oleh Mbak Arsseliyah ini bisa menginspirasi kaum muda lainnya agar mau berwirausaha,” tutur Muhajir.

Lalu apa impian Arsseliyah selanjutnya? Arsseliyah mengaku masih ingin terus mengembangkan usahanya ini agar bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja. Ia juga ingin produknya bisa masuk ke salah satu supermarket ternama yang ada di Malaysia.

“Saya ingin produk saya ini terpajang di salah satu supermarket ternama di Malaysia,” harapnya.

sumber: detik.com