1. Berdasarkan data BPS tahun 2015, dilihat dari perbandingan rasio ketergantungan antara jumlah usia produktif (rentang usia 15-64 tahun) dengan usia tidak produktif (rentang usia <15 dan >64 tahun) telah telah berada pada kisaran 100 : 48.6 (seratus berbanding empatpuluh delapan koma enam). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa secara nasional Indonesia telah memasuki apa yang dikenal dengan era Bonus Demografi.
  2. Era Bonus Demografi hanyalah merupakan sebuah peluang atau windows of opportunity. Ini berarti, jumlah penduduk usia produktif yang besar tidak secara otomatis atau pasti menjamin memberikan manfaat dan keuntungan keekonomian baik bagi anggota masyarakat maupun negara. Dengan demikian, era bonus demografi menyajikan dua pilihan yang tidak dapat dihindari, yakni apakah akan menjadi sebuah berkah, ataukah malah malapetaka.
  3. Fenomena bonus demografi akan menjadi pilar peningkatan produktivitas suatu negara dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya manusia produktif. Dengan keberhasilan memanfaatkan peluang era bonus demografi maka pertumbuhan pendapatan perkapita akan meningkat yang berimbas pada perbaikan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Demikian pula keuangan negara akan sehat sehingga pemerintah dapat lebih men-dayagunakan secara maksimal guna memajukan bangsa dan negara.
  4. Pertanyaannya, apakah bonus demografi by default menjadi ‘hak’ setiap negara tanpa harus melakukan sesuatu ? Pasti tidak. Kalau penduduk produktif yang berjumlah besar tidak mampu berproduktif pasti akan menjadi bencana luar biasa bagi negara, karena penduduk yang tidak produktif akan menjadi benalu dan berujung pada tergerusnya daya saing bangsa dan engine of growth hanya menjadi mimpi belaka. Dengan demikian, peluang bonus demografi tersebut akan menjadi berkah dan atau bencana, sepenuhnya bergantung dari bagaimana kita mensikapi dan memanfaatkannya.
  5. Menyadari arti penting dan nilai strategis dari era bonus demografi tersebut, pada tanggal 22 Juni 2015, beberapa tokoh nasional bermufakat mendirikan Yayasan Bhakti Bangsa sebagai wadah berbadan hukum yang mengemban semangat menumbuhkembangkan, menggalakkan kesadaran dan kepedulian komponen bangsa tentang perlunya kita melakukan penguatan karakter dan kompetensi sumber daya manusia Indonesia agar peluang bonus demografi dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin, sehingga besarnya jumlah penduduk usia produktif kita benar-benar mampu mendorong keberhasilan pencapaian kesejahteraan masyarakat.