Opini

TOLERANSI ATAU TENGGANG RASA SALAH SATU WUJUD INTEGRITAS

Tolerasi Salah Satu Wujud Integritas

Hari Widodo *)

Dodo“Ga toleran banget sih, kita kan sama-sama pemakai jalan, masa ga kasih kesempatan sebentar aja untuk belok”, dengan nada kesal si ibu pengemudi mobil yang sama sekali tidak diberi kesempatan untuk berbelok putar arah oleh kendaraan lain yang ada di belakangnya. Ungkapan semacam ini hanyalah kasus kecil yang kerap terjadi di jalan raya, ketika semua pengendara saling serobot tanpa peduli pada rambu lalulintas, apalagi etika sosial yang hanya diatur oleh norma tidak tertulis seakan semua lenyap ketika kepentingan pribadi menempati prioritas puncak yang harus segera dipenuhi.

Toleran atau toleransi dalam pelaksanaannya memang membutuhkan pengorbanan setiap orang, terlepas iklas atau tidak, sikap tersebut setidaknya mampu memberi jaminan berlangsungnya ketertiban dan keteraturan dalam pergaulan sosial keseharian kita. Jalan raya dengan segala aktifitas diatasnya, memberikan gambaran yang paling nyata untuk mengukur seberapa besar sikap saling toleran antar penggunanya, baik yang berkendara, pejalan kaki, pendorong gerobak, pedagang kaki lima hingga yang parkir. Kasus diatas tersebut seakan menggambarkan betapa jalan raya bagaikan wilayah liar tanpa aturan, kecuali jika ada petugas polantas – tanpa itu, rambu lalulintas hanyalah hiasan jalan semata.

Apa yang salah dalam perilaku tersebut?, Suatu yang kontras terjadi, yang kerap kita temui pelaku pelanggaran lalulintas umumnya adalah sosok terhormat. Harusnya dengan status sosial yang disandangnya, mampu berlaku tertib di manapun berada. Ternyata ketertiban yang di bangunnya hanya pada tempat tertentu dengan tujuan tertentu saja. Inilah ironisnya ketika toleransi berlaku sepihak dan berpihak, maka ketimpangan akan selalu terjadi, akibat tidak memiliki integritas.

Integritas ternyata masih menjadi sesuatu yang jarang dimiliki oleh masyarakat kita dari segala kalangan, bersatunya kata dan perbuatan seakan menjadi sesuatu yang sulit untuk diwujudkan, apalagi jika didalamnya ada kepentingan-kepentingan. Lantas bagaimana kita akan membangun bangsa yang bermartabat, jika tidak kita mulai dari dari kita masing-masing, dengan menjaga harkat dan martabat kita sebagai pribadi? Waktu untuk berubah selalu tersedia, namun waktu tidak akan menunggu kita, jadi segera buat perubahan itu selagi sempat.

*) penulis adalah admin situs resmi bonus demografi
PIC: indobikermags.com