Opini

Ikon Transformasi Bangsa

KAUM MUDA IKON TRANSFORMASI BANGSA

Bernard M *)

Ketakutan Bung Karno, bisa jadi telah menjadi realitas saat ini. Ketakutan bahwa berkarya mengisi kemerdekaan lebih sulit daripada mengusir penjajah, karena musuh kita adalah saudara sebangsa sendiri yang terlihat lebih oportunis, partisan dan sektarian. Bangsa kita membutuhkan ikon progresif pahlawan sejati jika ingin melihat transformasi menjadi bangsa berjaya, berkeadilan dan beradab. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pahlawan di definisikan sebagai seseorang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Kita bisa mengambil benang merah, pahlawan membutuhkan keberanian mengambil risiko, kerja keras dan bertindak lebih gigih ketika ingin menciptakan sebuah transformasi. Upayanya lebih mengutamakan kepentingan publik daripada sekedar kepentingan pribadi. Ini sangat sulit di lakukan. Namun , bukan tidak mungkin di laksanakan. Ini hanya perlu teladan. Contoh nyata. Dan, dapat di mulai oleh siapa saja asal memiliki karakter kepemimpinan. Pemimpin seharusnya memilih menjadi pahlawan sejati. Pertanyaannya, darimana menemukan dan mencetak para calon pahlawan tersebut?

Indonesia yang memiliki penduduk lebih dari 20 juta jiwa, perlu di stimulus dengan kebijakan yang mendukung terciptanya pemimpin-pemimpin baru yang bermutu dan menonjol. Darimana hal itu bisa di mulai? Tidak dapat kita pungkiri, para pemimpin awalnya di besarkan dari Perguruan Tinggi (PT). Dari sekitar 4600 perguruan tinggi yang di lakukan pemeringkatan oleh Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) , ada sekitar 100 perguruan baik di Indonesia. Artinya, hanya 4,6 % PT berkualitas! Celakanya, kebanyakan PT tersebut masih berada di pulau Jawa. Bagaimana pula dengan situasi tidak mendukung tersebut, bangsa ini dapat bersaing secara global, jika persaingan kualitas mencetak para pemimpin dalam negeri saja masih jomplang? Bangsa kita perlu berbenah untuk juga menggenjot kualitas PT di luar Jawa agar bibit-bibit pemimpin berkarakter dan inovatif merata sehingga misi pembangunan berkeadilan tiap daerah terwujud.

Dengan begitu, pokok pikiran yang ke-3 dari alinea ke-4 pembukaan UUD 1945 mencerdaskan kehidupan bangsa tidak lagi menjadi isapan jempol belaka. Bangsa Indonesia perlu bergegas menciptakan banyak pemimpin yang berkualitas. Ini sangat mendesak. Dan, syaratnya masih saklek. Hanya bisa terwujud jika anggaran fokus pada bidang pendidikan.

Mirisnya, berdasarkan anggaran tahun 2018, Kementerian Pendidikan dan Kemenristekdikti yang merupakan fondasi kokoh dalam melahirkan pemimpin yang nantinya akan bersinergi membangun bangsa, terlihat belum optimal. Kita dapat melihat dari paparan anggaran dari dua kementerian tersebut, yang jika di gabungkan sekalipun, hanya sekitar 80 triliun. Memang, jika di total secara keseluruhan dana pendidikan menembus angka Rp 444,1 triliun (20 persen dari APBN) dan meningkat tahun 2019 menjadi Rp 492,5 triliun.Permasalahannya ada 20 kementerian yang di ikut sertakan dalam postur anggaran tersebut. Sekitar 126,6 triliun saja di gunakan untuk menggaji pegawai negeri sipil (PNS).

Pemerintah sebagai pemimpin lokomotif kemajuan bangsa, saat ini harus benar-benar fokus pada pendidikan dan ristek dengan memotong birokrasi gemuk stoke holder pendidikan dengan optimalisasi e-government sehingga bukan saja lebih efisien namun juga meminimalisir korupsi anggaran karena bisa di pantau langsung. Bahkan, sistem tersebut di negara-negara maju mampu menghemat anggaran birokrasi 40 persen hingga 50 persen!

Momentum Pemimpin Generasi Muda

Cara lain membentuk ikon pemimpin tangguh dan risk taker adalah dengan merespon dinamika zaman. Kita tahu, transformasi besar dunia kini tengah di dorong inovasi teknologi. Teknologi tidak lepas dari berkualitasnya SDM. Sementara itu, SDM berkualitas  masih menjadi problem gigantis bagi bangsa kita. Berdasarkan pemaparan BPS Indonesia dari 136,1 juta angkatan kerja, 58 persennya (79 juta jiwa) hanya berpendidikan setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Padahal, hasil riset Mckinsey cukup memberikan optimisme bagi Indonesia, karena hasil proyeksinya menyimpulkan, Nusantara menjadi kekuatan ekonomi ke-7 di dunia pada tahun 2030, asal mampu menciptakan 113 juta tenaga kerja terlatih alias berkualitas. Berat, bukan? Karena itu, Perguruan Tinggi harus beradaptasi dengan jurusan baru terkait inovasi teknologi yang relevan seperti augmented realityroboticaartificial intelligence, big data, cloud computing, pemograman dan varian ilmu baru yang belum banyak di adaptasi. Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi policy maker dan harus bergegas di adaptasi jika bangsa kita tidak ingin hanya menjadi penonton sejati.

Mencetak Generasi Mind Power

Dalam buku terkenalnya, Don Tapscott yang berjudul Grown Up Digital memaparkan dengan jitu bagaimana peluang inovasi teknologi digital mampu menggerakkan roda besar ekonomi dengan model sharing economy yang mendisrupsi banyak perusahaan mapan dengan menciptakan ekosistem model ekonomi baru yang lebih horisontal. Siapa penggebraknya? Lagi-lagi, kaum muda melek teknologi.

Konklusinya, sebuah potensi gigantis ekonomi digital membutuhkan tenaga kerja terampil dan berpendidikan tinggi agar pembangunan siap menghadapi tantangan global yang kian kompetitif. Tantangan utamanya masih baku yaitu pemegang kebijakan dan stoke holder terkait mampu mengelola pendidikan dengan efisien serta terfokus.

Bangsa kita harus segera bergegas menyelesaikan permasalahan ruwet tersebut dengan cara-cara progresif dan menyingkirkan ego sektoral, karena ancaman bonus demografi Indonesia juga kian menuju puncaknya pada tahun 2030. Perubahan populasi tersebut melahirkan energi muda, yaitu generasi produktif muda mencapai 100 juta jiwa. Generasi dengan label milenial tersebut sangat fasih dan menggandrungi apapun yang terasosiasi teknologi.

Sudah tidak zamannya lagi mengagungkan streotip manpower  ataupun gembar-gembor sumber daya alam yang terjadi pada masa lalu dan harus di tinggalkan sehingga fokus menciptakan manusia-manusia mindpower agar masif menginisiasi terobosan solusi permasalahan di tengah masyarakat.

Pemerintah harus segera bergegas menemukan formula tepat agar kebijakan dapat memberikan efek domino bagi pertumbuhan ekonomi. Kebijakan tersebut lebih efektif jika mendukung ekosistem cube synergy (Academic, busines, comunity, goverment) agar daya saing lebih mampu berhadapan dengan perubahan zaman. Apalagi, indeks daya saing Indonesia pada tahun 2018 berdasarkan paparan Global Competitiveness Indeks 4.0, hanya berada pada rangking 45 dari 140 negara. Dan, masih kalah dari Malaysia (25), Thailand (38). Jangan pula di komparasi dengan negara Singapura (2). Sangat jomplang, pastinya.

Tapi, sekali lagi, tidak ada jalur cepat seperti tongkat sihir dapat mengubah elemen-elemen pendukung di atas agar berjalan kompak dan senergis jika tidak memulai dari sekarang. Empat serangkai cube synergy ekosistem digital tersebut akan menjadi sebuah daya ungkit dalam membangun laju deras ekonomi digital yaitu pemerintah (kebijakan), investor (katalisator), SDM (kampus), dan komunitas (asosiasi, alumni dan lain-lain) terkait tentu harus saling berkolaborasi dan berjejaring, agar haluan besar yang sudah terbuka luas tidak bergerak soliter khususnya bagi pengembangan bisnis model start up.

Pemerintah juga harus memberikan stimulus permodalan yang layak. Misal, dengan mengadaptasi India Fund Festival yang menghadirkan Bank sebagai donor pendanaan. Ataupun mengintegrasikan ekosistemnya di satu wilayah seperti Silicon Valley (California, USA) dan Silicon Fen (Cambridge, UK) yang banyak menciptakan startup kelas dunia melalui kolaborasi dunia bisnis dan akademisi.

Selain itu, terus membangun ruang pelatihan berkelanjutan seperti inkubator bisnis yang saat ini sedang gigih pengembangannya pada kampus-kampus. Jangan lupa pula, infrastruktur konektivitas pendukung internet agar akses market lebih luas dan terjadi distribusi produk dan jasa yang timbal balik dari desa menuju kota.

Pemerintah sebagai inisiator perlu juga menumbuhkan jejaring investor dan sebagai intermediasi dalam mempertemukan kebutuhan investasi startup dan kebutuhan investor agar proses pendanaan yang menjadi kebutuhan utama pengembangan startup tidak tersendat. Pihak swasta dalam hal ini sebagai investor juga memberikan kesempatan bagi startup dalam mengenalkan perusahaannya dan membuka forum kompetisi terbuka untuk permodalan dan jejaring ikon perusahaan yang telah sukses sehingga semakin menstimulus dan menciptakan kepercayaan diri kaum muda dalam membangun perusahaan dan membuka kolaborasi kepada sesama perusahaan sejenis. Komunitas juga memiliki peran penting karena akan membangun jaringan koneksi dan sharing informasi lebih cepat di tangkap dan di eksekusi investasinya.

Agar semakin masif yang terlibat dalam ekosistem digital, kampus atau PT tentu juga berperan sangat krusial. Selain menciptakan program studi relevan dengan perkembangan ekonomi digital juga sebagai wadah riset teknologi, diskusi dan pelatihan para kaum muda, sehingga mental entrepreneur terasah dan semakin piawai membangun manajemen sebuah tim perusahaan rintisannya.

Empat serangkai tersebut akan menciptakan rangkaian lingkaran gerak ekonomi digital kondusif dan aplikatif, sehingga semakin membuka ragam alternatif peluang baru, khususnya kaum muda dalam mewujudkan ide dan gagasan. Alhasil, ekonomi digital juga akan semakin memperbesar kesempatan merealisasikan program-program pemerintah hingga akar rumput, karena ekonomi digital juga secara langsung turut menciptakan nilai tambah sosial, budaya dan lingkungan. Dengan begitu, kesenjangan ekonomi dapat perlahan-lahan terurai.

Generasi muda harus di beri kesempatan memimpin transformasi teknologi tersebut. Kaum muda harus menjadi “pahlawan” baru dalam menggerakkannya. Generasi muda, sekali lagi harus membuktikan diri menjadi otak dan otot bangsa, agar lebih cerdas, tangguh, kokoh, dan agility dalam mewujudkan pergerakan perubahan haluan peradaban lebih progresif dengan mengkapitalisasi ide dan teknologi menjadi bisnis menguntungkan. Kita sudah melihat beberapa startup menjadi unicorn bahkan decacorn mengubah habit di dunia yang memberikan impak positif bagi penggunanya dari segi alternatif income, kultur baru dan produktivitas hidup baru ratusan juta manusia.

Generasi muda harus terus menjadi agen perubahan sekaligus berani bersikap risk taker sejati membangun bumi nusantara dengan aktualisasi diri sehingga berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Inilah ciri-ciri ikon pemimpin sejati, yang tidak akan berlebihan kita sebut saja Neo-Pahlawan. Pahlawan tanpa bentuk lukisan, tugu ataupun patung di pinggir jalan tapi dengan gagasan besar dan tindakan besar.

*) Penulis adalah Ketua KPBD (Komunitas Peduli Bonus Demografi) Bhakti Nusantara, Riau.