Berita

Kaum Muda Pantang Menyerah

GENERASI MUDA HARUS TERUS BERGERAK

Jakarta — Pandemi ini memang bikin susah banyak orang. Namun disadari atau tidak, anak muda adalah salah satu golongan yang terdampak paling besar. Kaum yang dikenal aktif dan energetik ini seakan dipaksa untuk berdiam diri di rumah. Mereka tak bisa pergi ke sekolah, jelas mustahil datang ke festival musik dan konser, tak kuasa menonton bioskop, atau sekadar nongkrong beramai-ramai di kafe langganan. Dengan energi besar yang tak tersalurkan, maka tak salah kalau banyak anak muda mengalami stress yang berpengaruh besar terhadap kesehatan mental mereka.

Begitu pula soal kerjaan. Berdasarkan laporan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO), lebih dari satu dari enam pekerja muda harus kehilangan pekerjaan karena pandemi. Mereka yang masih bisa bekerja pun, harus mengalami pemotongan jam kerja sebanyak 23 persen, yang artinya berkurang pula pendapatannya. Menurut laporan ILO, kini ada sekitar 267 juta anak muda yang menganggur.

“Pandemi ini berdampak tiga kali lebih besar bagi para anak muda. Tidak hanya menghancurkan pekerjaan mereka, pandemi ini juga mengganggu pendidikan dan pelatihan mereka, juga menciptakan aral besar bagi mereka yang akan masuk ke pasar kerja, atau yang akan pindah kerja,” tulis laporan ILO.

Dalam artikel yang dirilis oleh World Economic Forum, Rory Daniels juga menulis bahwa anak muda adalah pihak yang paling butuh dukungan di kala pandemik ini. Mengutip laporan dari NYA, Rory menulis bahwa setidaknya 84 persen anak muda di Inggris mengalami kesehatan mental yang memburuk dikarenakan, “…penutupan sekolah, juga karena tak bisa mengakses dukungan kesehatan mental.”

Masalahnya, pandemi ini tak akan bisa benar-benar diabaikan sebelum vaksin ditemukan. Di beberapa tempat, tes vaksin sudah mulai dicoba. Namun, sebagian besar pakar kesehatan beranggapan vaksin baru akan tersedia luas pada pertengahan 2021. Maka tak heran kalau selagi menunggu vaksin selesai dibuat dan tersedia, banyak pemerintah dunia menyarankan untuk “hidup berdampingan” dengan pandemi, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Ini juga terjadi di Indonesia.“Covid memang belum ada anti virusnya, tapi kita bisa mencegah. Artinya jangan menyerah, hidup berdamai dalam penyesuaian kehidupan. Ke sananya yang disebut the new normal, atau tatanan kehidupan baru,” ujar Bey Machmudin, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Maka ketika tatanan baru dicanangkan, orang-orang kembali mencoba berkegiatan. Anak-anak muda mulai kembali bekerja. Jalanan mulai dipenuhi mereka yang mencari nafkah.

Di masa pandemi yang menekan banyak orang ini, banyak orang, termasuk anak-anak muda memilih jadi kurir pengantar barang dan makanan, profesi yang sedang naik daun. Dari laporan Kementerian Keuangan dan Kemenko Perekonomian, ada enam sektor yang berpotensi meraup untung di masa sulit ini. Salah satunya adalah jasa logistik. Ini dilirik oleh anak-anak muda yang kehilangan pekerjaan, atau yang selama ini menjadikan kurir sebagai profesi sampingan.

Generasi 2020 mungkin kelak akan menepuk dada sembari berujar, “kami telah berhasil bertahan dari pandemi yang mengerikan.”

Editor: esispr//
Sumber: tirto.id