Celoteh

Menerobos Pandemi Global

SINERJI PROGRESIF MENEROBOS PANDEMI GLOBAL

Bernard M *)

Bangsa kita perlu menengok ke belakang, bahwa hanya persatuan komunal yang mampu melipatgandakan kekuatan dalam menerabas penjajahan, sehingga tanah air yang kita huni sekarang, lebih beradab dan memiliki kemerdekaan dalam menentukan masa depannya. Begitu pula saat sakarang, kekuatan untuk lolos dari pandemi yang meluluhlantahkan segala sektor ekonomi dan kehidupan, masih mungkin di hadapi dengan solusi atraktif dan terobosan. Syaratnya masih saklek: persatuan bangsa.

Bencana pandemi Covid-19 tidak dapat kita pungkiri mengakibatkan limbungnya ekonomi di berbagai sektor industri. Begitu pula, sektor pariwisata dan sektor pendukungnya yang melibatkan Usaha Mikro Kecil & Menengah (UMKM) sangat berdampak bagi pelakunya. Situasi sulit tersebut harus segera di recovery dengan cara-cara yang tidak lazim, layaknya sebuah pesawat tempur yang di serang senjata bertubi-tubi dari berbagai sudut, manuver kebijakan ekonomi menjadi solusi atraktif agar selamat dari bencana serangan mematikan akibat wabah.

Proyeksi pengangguran tahun ini menurut Kementerian Keuangan, jika dalam skala berat akan mencapai sekitar 12,05 juta jiwa. Artinya, ada tambahan 5 juta pengangguran baru. Sementara dalam skala moderat, pengangguran akan menyentuh angka 2,9 juta jiwa, sehingga totalnya menjadi 9,05 juta jiwa. Hasil proyeksi tersebut, bercermin dari data BPS Indonesia tahun 2019, jumlah pengangguran sekitar 7,05 juta jiwa.

Bermanuver tentu saja membutuhkan strategi namun yang tidak kalah penting melibatkan psikologis pelaku: Keberanian. Berani mengemas solusi dengan cepat dan tepat agar tidak jatuh berdebam tanpa upaya optimal. Apalagi di tengah pandemi, bangsa kita juga tengah mengalami perubahan struktur kependudukan, yang hampir separuhnya adalah usia produktif layak kerja berusia 15-64 tahun akibat fenomena bonus demografi. Upaya terobosan berbagai pihak harus mampu mengangkat produktivitas warga sehingga ekonomi bergerak progresif menghadapi pandemi.

Salah satu strategi manuver yang bisa di jadikan solusi adalah dengan mengadaptasi konsep Triple Helixdengan mengembangkan Skill Development Center (Pusat Pengembangan Keterampilan) di tiap daerah. Di mana , SDC sebagai sebuah forum atau wadah dalam rangka mengatasi mandegnya tenaga kerja produktif di tingkat kabupaten dan propinsi dalam bentuk program pendidikan dan pelatihan (Diklat).

Forum tersebut harus melibatkan 3 pemangku kepentingan terkait yaitu ABG; Academic (Pendidikan & Pelatihan), Business (Dunia Usaha dan Dunia Industri), dan tentu saja Goverment (Pemerintah Daerah). Sinergi dari ke-3 pemangku kepentingan menjadi lokomotif agresif yang di harapkan mampu menjadi daya ungkit bangkitnya ekonomi berbasis potensi lokal yang nantinya mengangkat produktivitas nasional.

Dari ke-3 pihak yang berkepentingan inilah dapat menekan laju pengangguran dengan solusi yang tepat sasaran melalui program yang sistematis dan berkelanjutan. Harapannya dengan komunikasi, koordinasi, sinkronisasi strategis lewat forum tersebut permasalahan pengangguran dapat teratasi dengan lebih komprehensif, tidak ada lagi benturan birokrasi sehingga memperlambat eksekusi program, mengingat keadaan ekonomi tengah gawat darurat.

Pertanyaannya sekarang, apakah yang membedakan SDC dengan Balai Latihan Kerja (BLK)? Bukankah BLK juga di bangun sebagai pusat keterampilan? Perbedaannya terletak pada sinergi lintas sektoral dan daya serap partisipasi publik yang lebih efektif dan lebih besar.

Menelisik data BLK saat ini, ada sekitar 301 di seluruh Indonesia dan 17 diantaranya adalah BLK pusat atau disebut juga dengan BLK Unit Pelaksanaan Teknis Pusat (UPTP). Dari 17 BLKP tersebut hanya berkapasitas 50.000 orang setiap tahunnya. Sementara itu dari 284 BLK daerah, hanya mampu menampung pelatihan tenaga terampil 225.800 orang setiap tahun. Jika di total setiap tahun, maka ada 275.800 orang yang mengikuti pelatihan tersebut, sehingga target pemerintah dalam menggenjot “mesin” tenaga terampil masih jomplang, mengingat pengangguran yang berjumlah sangat besar saat ini dan di kemudian hari pasca pandemi. Untuk itulah SDC di hadirkan agar lebih masif lagi muncul pada setiap daerah sebagai upaya agresif mengantongi tenaga terampil usia produktif lebih besar.

Selanjutnya, dari mana konsep SDC ini dapat di mulai? Dengan memamfaatkan skenario sinergi 3 pihak yaitu ABG , dapat bersinergi dengan 2000 Sekolah Menengah Kejuruan (Negeri & Swasta), 300 sampai dengan 500 Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS), 300 sampai dengan 500 perguruan (Negeri & Swasta). Jika di total akan ada 2600 hingga 3000 lembaga yang terlibat. Skenario terbaiknya akan mendongkrak pertambahan calon tenaga terampil 1,5 juta sampai dengan 3 juta jiwa, hanya dengan asumsi target pelatihan 500 hingga 1000 setiap tahun. Jumlah ini paling tidak mampu mendongkrak 10 kali lipat kapasitas yang mampu di tampung dari BLK yang ada saat ini.

Berkaca dari skenario di atas, maka dapat pula di proyeksi jumlah pengangguran di tekan dengan skenario ringan (penambahan 4 juta penganggur) yang selesai antara 1 sampai dengan 1,5 tahun. Dalam keadaan skenario berat (penambahan 9 juta penganggur) akan dapat selesai 3 sampai dengan 4 tahun. Agar konsep SDC tersebut optimal lagi di serap dalam dunia kerja atau malah pesertanya berkolaborasi karena memiliki keterampilan spesifik yang berbeda, setiap lulusan perlu juga di dorong saling berkomunikasi, sehingga interaksi yang terbangun dapat saling menyemangati, memberikan informasi dan dapat pula saling bekerjasama sekaligus memperluas jaringan, jika memiliki niat berwirausaha. Komunitas daring maupun offline juga relevan di inisiasi antar peserta agar tidak kehilangan kesempatan peluang kerja atau malah mendapatkan update pengetahuan terkait program yang di geluti.

Pengangguran pasca wabah Covid-19 tidak akan mampu di tolak. Antisipasi terukur dan sistematis serta sinergi pihak-pihak terkait sangat di butuhkan mengingat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pasti kian meningkat dan kapasitas Diklat juga tidak akan memadai jika di kerjakan tanpa kolaborasi lintas sektor. Konsep SDC menghadirkan sebuah solusi komprehensif karena selain relatif minim dari segi biaya sekaligus sistematis dan terstruktur dalam penanganan TPT.

Inilah salah satu pilihan konsep yang mendesak perlu di realisasikan lebih cepat sekaligus pembuktian kontribusi nyata bagi setiap anak bangsa khususnya stoke holder dalam memaknai Persatuan Indonesia yang termaktub dalam sila ke-3 Pancasila. Bukankah bangsa kita merdeka juga karena persatuan? Sudah saatnya stoke holder saling bergandengan tangan bergotong royong memberikan semangat dukungan dan solusi efektif, bukan sekedar saling menyalahkan dan melempar tanggung jawab ketika dalam situasi berat ekonomi. Bukankah, rekan sejati adalah teman yang membantu kita saat kedaaan sedang sulit? Jika rukun, kita menjadi kuat, pesan sang proklamator Bung Karno.

*) Penulis adalah Ketua Komunitas Peduli Bonus Demografi (KPBD) Nusantara, Provinsi Riau.
Diunggah juga di impulse.co.id