Berita

Menggenjot Ekonomi, Bonus Demografi

GAGASAN DAN TEROBOSAN MENGGENJOT EKONOMI, TANTANGAN BONUS DEMOGRAFI

 

Jakarta, 05/09/20 — ‘…dalam data RJMPN tahun 2015 – 2019, diperkirakan kita (baca: Indonesia) membutuhkan sekitar 113 juta tenaga kerja. Tentunya tenaga kerja yang dimaksud ialah mereka yang memiliki kapasitas dan kapabilitas memadai sehingga bisa memberikan nilai tambah baik bagi diri mereka sendiri maupun mendongkrak pendapatan nasional…’ ujar Berry Manurung, Ketua KPBD Riau, saat menjelaskan tentang bonus demografi di Webinar bertopik Gagasan dan Terobosan Menggenjot Ekonomi, Sabtu 05/09/20.

Webinar tersebut diselenggarakan oleh kelompok masyarakat yang tergabung dalam B+ (B plus) dengan menampilkan 3 (tiga) narasumber, yakni Berry Manurung (pemerhati sosial masyarakat, penulis, dan Ketua KPBD Riau, Ir. Sarwono Kusumaatmadja (Dewan Pembina Yayasan Bhakti Bangsa), dan Dr.Aldon MPH. Sinaga,S.P.,M.M.A (Sekretaris Poltek Wilmar Bisnis Indonesia).

Pada kesempatan tersebut, Berry mengungkapkan pentingnya menggerakan potensi kaum muda di sektor usaha dan bisnis. ‘…di masa depan, selang beberapa ke tahun dan mungkin sudah dimulai dari sekarang, kaum muda kita akan mengalami tekanan persaingan yang ketat baik dari sesama anak bangsa maupun dengan kaum muda bangsa lain. Oleh karena itu, perlu dibangun kesadaran dan sinerji antara pemerintah dan masyarakat dalam konteks pemanfaatan secara optimal dari era bonus demografi…’ tegasnya. Lebih lanjut Berry mengungkapkan kenyataan yang diketahui bahwa kepedulian dan perhatian terhadap bahaya di balik bonus demografi masih jauh dari harapan.

Menurutnya, guna mengatasi dan mengantisipasi imbas globalisasi yang berpengaruh terhadap upaya kita meraih peluang bonus demografi tersebut, salah satunya adalah dengan memperkuat dan meningkatkan mutu Pendidikan nasional. ‘…dari sejak dini, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, pola Pendidikan kita mesti diarahkan pada upaya mengokohkan daya saing. Oleh karenanya, Pendidikan dengan pengembangan baik hard skill maupun soft skill merupakan keharusan yang mutlak menjadi orientasi capaian…’

Senada dengan Berry, Sarwono Kusumaatmadja juga melihat penguatan kompetensi (soft skill dan hard skill) merupakan hal strategis guna menghasilkan kualitas SDM yang cerdas, kreatif, inovatif, dan berdaya mampu. Namun menurutnya, ada hal yang lebih penting di atas keduanya. ‘…benar yang disampaikan saudara Berry bahwa soft skill dan hard skill sangat diperlukan guna menunjang kualitas SDM yang baik namun menurut saya ada yang lebih penting di atas keduanya, yaitu penguatan karakter, seperti, integritas, kejujuran, dan berani mengambil resiko…’ katanya.

Saarwono berpendapat saat ini Indonesia sedang menghadapi 3 (tiga) masalah besar, yaitu: resiko krisis pangan, pengangguran, dan kesehatan masyarakat (public health). Untuk itu, menurut Sarwono, solusi yang terbaik diantaranya memanfaatkan peluang bonus demografi melalui upaya membangun sektor priotitas yakni, (1). Pendidikan dan latihan; (2). Ketahanan pangan, air, dan energi; (3). Kesehatan masyarakat, selain kuratif.

Di sektor Pendidikan, 2 (dua) hal yang harus diperhatikan katanya, (1). Perlu tindakan korektif untuk mengatasi terhambatnya proses Pendidikan akibat pandemic; (2). Perlu program pengembangan untuk menciptakan tenaga kerja yang punya etos kerja baik, berkualitas, inovatif, tahan uji dan fasih digital. Sementara di sektor Ketahanan Pangan, Air, dan Energi, langkah diperlukan diantaranya: (1). Lokavora, ekonomi sirkuler, pertanian kota, permakultur, agroekologi, agritektur, dan seterusnya. Tren baru di bidang pertanian ditandai oleh pertanian hemat lahan dengan produktivitas tinggi sekaligus pendekatan multikultur, alami/organic; (2). Perlu konservasi dan tata kelola air baik di tingkat operasional maupun strategic; (3). Transisi dari energi fosil ke eneregi baru dan terbarukan perlu dikelola dengan konsisten dan taat asas. Penanganan Kesehatan Masyarakat perlu memperhatikan aspek preventif selain penangan kuratif.

Sependapat dengan kedua pembicara sebelumnya, Aldon MHP. Sinaga juga sepakat perlunya optimalisasi dalam memanfaatkan peluang bonus demografi. ‘…kaum muda kita akan bersaing amat ketat dalam tatanan global Bersama India yang sebentar lagi memasuki era bonus demografi dan beberapa negara lainnya, seperti Brazil dan Rusia. Bila kita berhasil dalam memanfaatkan jendela peluang itu maka akan terwujud Indonesia masuk sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia. Namun sebaliknya, jika gagal maka kita akan terperosok di middle income trap…mengerikan…’ ujarnya.

Dalam konteks memaknai arti penting dan strategisnya bonus demografi bagi bangsa Indonesia, Aldon melihat perhatian dan kepedulian masyarakat masih harus terus dibangun dan dikembangkan. Untuk itu, Aldon berharap proses tansformasi pola pikir yang dapat membantu perubahan paradigma di kaum muda dalam cara pandang terhadap permasalahan yang sedang dan akan dihadapi bangsa. Misal, mendorong untuk aktif berpikir kritis.

sb: esispr//