Celoteh

Pendidikan Humanis dan Berkebudayaan

PENDIDIKAN HUMANIS YANG BERKEBUDAYAAN

Prof. Asep Saefuddin, Ph.D

Kontroversi Peraturan Pemerintah No 57/2021 tentang Standar Nasional Pendidikan dan terbitnya kamus sejarah Indonesia yang menghilangkan beberapa tokoh bangsa telah memicu ragam reaksional. Kejadian ini sejatinya hanyalah puncak gunung es yang menyelimuti dunia pendidikan kita saat ini.  Terkesan ada disorientasi dalam proses pendidikan kita dewasa ini. Perubahan dan transformasi yang berlangsung terkesan mengabaikan aspek kesejarahan dan budaya Indonesia.  Mengapa demikian? Secara historikal pendidikan di Indonesia sejatinya bukan sekedar memberikan pengetahuan dan keterampilan. Akan tetapi, pendidikan semasa pra dan pasca kemerdekaan sebagai alat perjuangan merebut “hak kemanusian” bangsa termasuk kemerdekaan jati diri Indonesia. Ada nilai-nilai yang terpatri dan diperjuangkan di dalamnya. Ada nilai keadilan, kedaulatan, kebajikan (budi pekerti, cita rasa dan karsa), nasionalisme, kemanusiaan, dan religiusitas hingga budaya. Makanya, dalam Pembukaan UUD 1945 salah satu tujuan bernegara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Lalu dicantumkan dalam batang tubuh UUD 1945 pasal 31. Ditegaskan dalam pasal ini bahwa pendidikan sebagai hak warga negara. Artinya setiap warga negara mesti cerdas tak hanya secara intelektual-individual. Melainkan juga cerdas secara sosial. Sebab, pendidikan itu adalah proses kebudayaan.

Saya mengutip tulisan Daoed Joesoef:…”dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Tanah Air tercatat jelas bahwa Indonesia adalah satu-satunya bangsa yang sewaktu masih dijajah berani mendirikan sekolah bersistem nasional berhadapan dengan sekolah kolonial Belanda. Sekolah nasional itu adalah Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Ada Indonesische Nijverheid School yang didirikan Moh Syafei di Kayu Tanam dan Normal School yang didirikan oleh Willem Iskander di Tano Bato (Kompas 7/11/2014)”.

Makanya, Daoed Joesoef menolak keras untuk memisahkan “pendidikan dan kebudayaan” dalam kelembagaan kementerian pendidikan di Indonesia. Pasalnya pemisahan itu menandakan adanya kekeliruan  memahami pendidikan kita. Ia pun mengkritis FRI (Forum Rektor Indonesia) yang mengusulkan pemisahan itu. Ia menganggap FRI tak menyadari ide humanitarian yang membentuk lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang mereka pimpin. Saya kutip kritik Joesoef: “proses pendidikan tinggi di mana pun di dunia ini berusaha menghasilkan ”budayawan” (man of culture), bukan ”ilmuwan” (man of science). Walaupun tidak selalu dinyatakan secara eksplisit. Sebab, ilmu pengetahuan tanpa budaya bisa tergelincir ke teknologi (applied science) yang menghancurkan manusia itu sendiri. Bahkan kebudayaan adalah basis kultur pendidikan. Beliau pun menguatkan kritiknya dengan meminjam Prof. Bronowski yang menyatakan bahwa: ”It is not the business of science to inherit the earth, ”but to inherit the moral imagination; because without that, man and belief and science will perish together.” (Kompas 7/11/2014)”.

Dalam konteks, peradaban pendidikan pulalah yang membentuk dan memajukan peradaban dunia. Abad pencerahan Eropa dan kemajuan peradaban Islam 500 tahun di masa keemasannya karena proses pendidikan yang berkelindan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Indonesia pun mencapai kemerdekaannya karena kontribusi kaum terpelajar yang terdidik dalam menggalang pergerakan nasional. Salah satunya Bapak Pendidikan Nasional Kita, Ki Hadjar Dewantara. Saya kutip pemikirannya: ’Pendidikan dan Pengajaran di dalam Republik Indonesia harus berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia, menuju ke arah kebahagiaan batin serta keselamatan hidup lahir”. Kalau mencermati pemikiran Ki Hadjar Dewantara tujuan akhir dari proses pendidikan itu adalah “kebahagiaan”. Para pejuang itu adalah mereka yang paham kebudayaan, bukan sekedar ilmu pengetahuan dan teknologi, apalagi sekedar keterampilan.

Kini dunia mengalami perubahan yang serba cepat dan eksponensial. Perubahan ini dipicu kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Dunia pendidikan juga mengalami hal serupa yang familiar disebut era disrupsi. Menariknya lagi, era disrupsi ini mengakibatkan ilmu pengetahuan (science) tak lagi berdiri sendiri. Melainkan,  mengalami saling ketergantungan satu sama lain. Ilmu pengetahuan kian menjauhkan dirinya dari paradigma monodisiplin (orthodox).  Ilmu pengetahuan jadi berinterelasi dan berkelindan. Lahirlah paradigma dan ekosistem baru pendidikan yang pluralis/heterodoks. Tak lagi kaca mata kuda. Ilmu pengetahuan berkembang pesat secara multidisiplin, transdisiplin dan interdisiplin (Gerber dan Steppacher, 2012). Simaklah, apalah saat ini ada ilmu yang tak mempunyai irisan dengan teknologi informasi (digital)? Rasanya nyaris semuanya beririsan. Namun demikian, dinamika era disrupsi ini mestinya tak menggerus cara pandang pendidikan kita yang memang telah pluralis/heredodoks secara paradigmatik.

Mengutip Colombo (2012), bahwa paradigma pendidikan pluralis/heterodoks mengacu tiga hal, pertama, tindakan subjek/pelaku yang berbeda (baik yang agensi tunggal maupun kolektif). Kedua, kemungkinan mengkombinasikan kerangka kognisi berbeda (kuncinya interpretatif, dan bahasa). Ketiga, kultur inklusivitas  dalam mengekspresikan sekumpulan nilai yang berbeda (baik ideologi, cara berpikir, kepercayaan dan agama) dalam bingkai kesatuan. Pendekatan “pluralis/heterodoks” ini bakal menghasilkan pendekatan “hibrid” yang khas dalam pendidikan Indonesia. Mengapa demikian? Sebabnya, kondisi sosial-ekonomi dan budaya serta cita-cita yang dikehendaki pendiri negara memang demikian. Jadi, pendidikan kita tak lagi memproduksi manusia sebagai “agen dan robot-robot kapitalisme”. Melainkan, menghasilkan manusia-manusia cerdas, berbudaya dan memiliki etika yang beradab. Konsepsi pendidikan yang bersifat “hibrid” yaitu, pertama, mensinergikan, menyerap dan adaptif terhadap nilai-nilai modern terutama kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Contohnya, dalam metodologi riset dan pengajaran tak hanya bersifat tunggal. Melainkan, heterogen atau kombinasi yang inovatif-kreatif.

Kedua, menginternalisasikan ideologi dan “weltanschauung” bangsa Indonesia. Weltanschauung yaitu orientasi kognitif mendasari individu maupun masyarakat yang mencakup seluruh pengetahuan dan sudut pandang individu atau masyarakat (kesadaran kolektif atau collective consiousness). Termasuk di dalamnya filsafat alamiah (filsafat etnik Nusantara), anggapan fundamental (kebenaran universal yang mendasar), eksistensialis, dan normative, tema, nilai, emosi, hingga etika keadaban. Pemahaman semacam ini memosisikan “nilai” (values) sebagai hasil penafsiran terhadap dunia yang terintegrasi.

Ketiga, nilai-nilai agama yang inklusif dan juga tradisi/kearifan lokal. Umpamanya, di China, Korea dan Jepang ada nilai konfusianisme dan Budhisme. Mungkinkah, nilai-nilai agama di Indonesia dan tradisi Nusantara (baca: budaya bahari, sunda wiwitan) juga mewarnai budaya pendidikan kita?

Saya percaya lewat konsep hibridisasi ketiganya, proses pendidikan yang meng-Indonesia bakal berkembang dan berdaya saing. Pada akhirnya, proses pendidikan kita tak lagi menimbulkan problem struktural maupun kultural yang menimbulkan polemik. Melainkan sebuah model pendidikan khas Indonesia yang humanis, berkebudayaan dan beradab. Pendidikan dengan paradigma dan pendekatan semacam ini bakal “melahirkan manusia Indonesia humanis, berawawasan kebangsaan, berbudaya dan cerdas secara individu sekaligus sosial.  Mereka adalah nasionalis yang berwawawan terbuka terhadap konektivitas global tanpa menghilangkan identitas ke-Indonesiaannya.

Tentu pemikiran ini membutuhan rumusan konsep yang komprehensif dan terintegrasi sehingga proses pendidikan kita tak ketinggalan atau bahkan digilas kereta kemajuan. Sekaligus juga tak menggerus ideolog nasional, wawasan kebangsaan dan ke-Indonesia-an kita dalam bingkai kesatuan dalam keragaman atau bhineka tunggal ika. Itulah esensi pendidikan humanis yang berkebudayaan dalam pemikiran saya. Semoga!

Penulis adalah Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Professor IPB, (menurut beliau tulisan tersebut juga pernas diterbitkan di Tempo dan beliau mengijinkan untuk diterbitkan di situs YBB).