Inspirasi

Sofyan Djalil, Tak Henti Belajar

SOFYAN DJALIL: BELAJAR DAN TERUS BELAJAR

Tekad belajarnya yang kuat, pria kelahiran Aceh ini menuai kesuksesan; dari pedagang telur hingga menjadi menteri beberapa kali. Beliau ialah Sofyan Djalil, tokoh nasional yang kiprahnya diakui baik Nasional maupun Internasional.

Dr. Sofyan A. Djalil, S.H.,M.A.,M.ALD, biasa dipanggil Sofyan. Ia lahir di Aceh,  23 September 1953, dari keluarga sederhana. Ayahanda beliau berprofesi sebagai pemangkas rambut, sedang ibundanya mengabdi sebagai guru mengaji.

Meski sederhana, Sofyan termasuk anak yang sangat beruntung. Dibesarkan oleh sebuah keluarga harmonis dan relijius; tumbuh dan besar di desa yang asri dengan kesegaran udara bersih. Sehingga cukup beralasan untuk Sofyan memiliki kesehatan tubuh prima dan terjaga. Bimbingan ketat orang tua menghantarkan Sofyan sosok orang yang berbudi dan berakhlak baik. Di lengkapi pula karunia kecerdasan menjadikan Sofyan termasuk anak bangsa yang memiliki integritas kuat untuk bangsa dan negara-nya.

Minat kuat untuk menyerap pengetahuan, Sofyan kecil memang menakjubkan; di tengah kekurangan sarana baca saat itu, Sofyan selalu berusaha untuk mencari koran-koran bekas atau media informasi lainnya untuk di baca. Kesadaran akan arti penting pengetahuan sudah tertanam semenjak kecil. Sehingga tidak mengherankan bila Sofyan muda dan kini dikenal sebagai salah seorang tokoh yang berwawasan luas.

Cara pandang dan berpikir untuk terus maju mendorong tekad Sofyan untuk menyelesaikan Pendidikan formal sambil bekerja. Watak wirausaha tumbuh dan berkembang secara alami. Misal, guna membiayai sekolahnya, Sofyan tidak kecil hati berjualan telur. Sekolah dasar dan menengah dia selesaikan di Aceh.

Sewaktu muda, Sofyan mengaku pernah menjadi guru agama selama dua tahun untuk memenuhi harapan ibundanya. Cermin sikap hidup yang senantiasa menjunjung orang tua.

Pada tahun 1976, dalam usia  23 tahun, dia berangkat ke Jakarta untuk menghadiri kegiatan Muktamar Nasional Pelajar Islam Indonesia (PII). Sejak itu, ia memilih tetap tinggal di Jakarta. Tanpa keluarga, ia bahkan pernah menumpang tinggal di masjid hingga dipanggil dengan nama lain, James, oleh kawan-kawannya.

Datang ke Jakarta tanpa keluarga, tak ada support system, saya tinggal di masjid. Dulu saya dipanggil James. James itu bahasa Inggris kesannya, tetapi sebenarnya penjaga masjid alias marbot, kenangnya. Sebuah pengalaman yang membekas dalam perjalanan perjuangan beliau.

Guna bertahan di kerasnya tantangan kehidupan, berbagai kerja serabutan dia lakukan; pernah menjadi kondektur metromini dan juga menjadi pengurus masjid  Pusdiklat Kejaksaan Agung, Jakarta.

Tiada hari tanpa kuliah dan kerja sudah merupakan nilai yang kuat tertanam dan menjadi bagian dari kepribadiannya. Usai bekerja di pagi hari, ia lanjutkan kuliah sore di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, bidang studi hukum bisnis.

Ia tamat pada tahun 1983. Sofyan menggondol gelar sarjana hukum pada usia 30 tahun. Setelah itu, ia ikut lembaga kajian, dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk meraih gelar master dan doktor di Tufts University, Medford, Massachusetts, Amerika Serikat.

Berbekal pendidikan yang dimiliki, pintu sukses mulai terbuka untuk Sofyan. Mulai menjadi dosen, peneliti, konsultan, hingga menjadi komisaris berbagai perusahaan lokal dan mancanegara.

Sofyan juga menjadi menteri beberapa kali. Ia menjadi menteri komunikasi dan informatika (2004-2007) dan menteri negara BUMN (2007-2009) pada kabinet Indonesia Bersatu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pasca Pilpres 2014, Presiden terpilih Jokowi menunjuknya menjadi menteri Koordinator bidang perekonomian dalam Kabinet Kerja 2014-2019.

Namun, belum setahun kabinet ini berjalan, Sofyan kena pergantian kabinet. Ia dipindah menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas periode 2015-2019. Lagi-lagi, pada pertengahan 2016, ia kembali digeser menjadi  Menteri Agraria dan Tata Ruang.  Sofyan, dalam dua tahun di kabinet Jokowi, menduduki tiga kali posisi menteri yang berbeda.

Di tengah padatnya ragam kesibukan, Sofyan tetap memberi perhatian dan menyediakan waktu untuk peduli atas penguatan karakter anak-anak bangsa. Bersama sang istri, Ratna Megawangi, Sofyan turut aktif menyelenggarakan Lembaga Pendidikan yang berbasis karakter, yaitu IHF (Indonesia Heritage Foundation), di daerah Cimanggis, Kabupaten Bogor.

Selain itu, bersama kolega lainnya, diantaranya, Supramu Santosa, Sarwono Kusumaatmadja, TP. Rachmat, Erry R. Hardjapamekas, Fasli Jalal, dan Dedi. A. Sumanagara, mendirikan Yayasan Bhakti Bangsa, Yayasan ber-visi penguatan kompetensi dan karakter sumber daya manusia dalam upaya optimalisasi pemanfaatan peluang bonus demografi.

Sofyan A. Djalil, tokoh yang sederhana dan inspiratif; memberi ruang keteladanan untuk kaum muda.

editor: esispr//