Celoteh

Tinggalkan Analog, Gunakan Digital

 

PENDIDIKAN DI ERA NORMAL BARU

Asep Saefuddin
Guru Besar IPB/Rektor Universitas Al Azhar Indonesia

Normal baru adalah suatu keadaan normal yang berbeda dengan normal sebelumnya. Perubahan itu diakibatkan oleh sesuatu yang membuat kegiatan yang sebelumnya dianggap normal, menjadi tidak normal lagi. Misalnya kebiasaan berkumpul sambil ngobrol di ruang tertutup yang tadinya biasa, dalam normal baru ini menjadi tidak biasa.

Kebiasaan antri pun bisa disebut normal baru bagi suatu masyarakat yang awalnya tidak terbiasa dengan antrian. Kebiasaan baru seperti ini awalnya dipaksa oleh regulasi yang ada pengawasan, tetapi lama kelamaan menjadi biasa. Akan tetapi kebiasaan yang berubah akibat pengawasan, umumnya tidak permanen. Begitu tidak diawasi, kebiasaan baru itu tidak berjalan.

Saat ini kita menuju normal baru akibat adanya virus yang menular dari manusia ke manusia. Efek dari semua itu kita dipaksa melakukan kebiasaan baru yang berbeda dengan sebelumnya. Rapat, sekolah, olah raga, bahkan ibadah pun terpaksa berubah. Hal itu dilakukan untuk mengurangi proses penularan yang bisa berefek fatal. Covid19 bisa menyebabkan kematian bagi seseorang yang mengidap penyakit komorbid dengan covid19, misalnya diabetes.

Kebiasaan lama seperti bersalam-salaman, cipika cipiki, dan saling rangkul sebelum covid19 itu normal. Tetapi saat ini tidak lagi leluasa dilakukan. Bisa jadi di era normal baru itu pola hubungan manusia sudah berubah. Bisa jadi silaturahmi antar manusia lebih mendalam lagi. Tidak sekedar di permukaan secara fisik, tetapi di dalam qolbu, batin, atau rahim. Manusia tidak lagi terjebak pada sekadar penampilan fisik.

Di masa pandemi ini, pada saat yang sama, kehidupan ekonomi dan juga pendidikan harus berjalan. Ekonomi sangat diperlukan secara hari ke hari yang berkaitan dengan kelangsungan hidup seseorang dan masyarakat. Ketahanan ekonomi ini akan memperkokoh kekuatan masyarakat suatu negara dari hari ke hari, bulan ke bulan serta tahun ke tahun. Jangka pendek, menengah dan panjang. Tanpa kekuatan ekonomi lama kelamaan suatu negara bisa jatuh. Atau tergantung kepada negara lain.

Pendidikan sangat berkaitan dengan pelaku ekonomi dan kegiatan sosial lainnya, termasuk politik. Karena pendidikanlah yang berkaitan langsung dengan sumber daya manusia (SDM). Kualitas pendidikan akan mempengaruhi kualitas SDM. Tanpa kualitas SDM yang mumpuni, sulit terjadi kekuatan ekonomi yang ujungnya menjadi penguat kedaulatan negara. Jadi, sumber dari segala sumber adalah pendidikan. Pendidikan yang bermutu akan menjadikan SDM bermutu yang berefek pada kualitas ekonomi. Tanpa pendidikan yang bermutu mustahil negara berdaulat.

Pendidikan Digital

Pandemik covid19 jelas sangat berdampak pada pendidikan. Karena pendidikan memerlukan kelas dan para peserta didik (siswa dan mahasiswa) serta pendidik (guru dan dosen) bertatap muka. Pola ini justru yang harus dihindari.

Covid19 memaksa pendidikan berubah. Kebiasaan lama akan menjadi usang digantikan dengan kebiasaan baru berbasis digital. Awalnya memang akan terjadi kekagetan dan kaku, lama lama menjadi biasa, walaupun terpaksa. Tidak ada pilihan teknologi digital menjadi alat paling dibutuhkan.

Dalam normal baru akan terjadi setidaknya 3 pola dalam proses pembelajaran. Pertama, suatu pembelajaran campuran yang sering disebut “hybrid” atau “blended learning”. Yakni suatu pola campuran tatap muka luring (luar jaringan) dan daring (dalam jaringan).  Pola daring biasanya disiapkan teknologi digital LMS (Learning Management System). Semuanya terjadwal dengan sistematis untuk tatap muka luring dan daring.

Kedua, pola penuh digital yang dikenal PJJ (Pendidikan Jarak Jauh). Pendekatan ini ada tatap muka maya secara terjadwal. PJJ lebih digital daripada “blended/hybrid learning”. Semuanya dilakukan dengan teknologi digital. Tetapi unsur sistematis masih terasa. LMS masih menjadi andalan.

Ketiga, pendidikan berbasis budaya digital (digital culture). Pendidikan ini betul-betul menuntut kebiasaan digital secara individu tanpa arahan-arahan secara sistematis. Pendidikan digital ini dilakukan oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Tidak ada waktu yang secara spesifik ditentukan.

Siswa dan mahasiswa bukan peserta didik yang dicatat kehadirannya, bahkan ada bobot persentasenya. Tetapi mereka adalah pembelajar (learner) yang mencari ilmu, teknologi, dan keterampilan tanpa ada yang mengawasi.

Para pembelajar itu bisa saja terdaftar di sebuah lembaga pendidikan, utamanya universitas, tetapi mereka meracik sendiri mata kuliahnya. Mereka juga bisa mengambil mata kuliah di kampus-kampus besar dunia secara resmi atau tidak. Atau mereka ambil kelas-kelas tertentu dari coursera atau MOOCs yang saat ini bertebaran di dunia maya ‘cloud’.

Ketika mereka memerlukan lembar sertifikat mata kuliah tertentu, mereka baru mendaftar ujian secara daring. Sudah barang tentu sertifikat itu ada nama mata kuliah dan nilai yang ditandatangani resmi oleh dosen pengampu. Para pembelajar yang sungguh-sungguh tidak akan membuang-buang kesempatan ini dengan ujian asal lulus. Mereka berusaha sekuat tenaga agar nilai yang tertera di sertifikat itu memuaskan.

Kumpulan-kumpulan sertifikat ini secara resmi diakui oleh universitas dimana mereka terdaftar. Dengan demikian mereka pada saatnya mendapat kualifikasi setara S1, S2, atau S3. Inilah yang disebut universitas digital.

Para dosen sebagai pengampu mata kuliah harus mau merubah pikirannya. Jangan terlalu kaku, adaptif terhadap perubahan, terbuka dan mengakui mata kuliah yang diambil pembelajar di kampus lain, baik di dalam atau pun di luar negeri.  Bahkan dosen tersebut bisa saja mengajar pembelajar dari kampus lain. Di sinilah dosen dituntut untuk menyiapkan bahan dan menyampaikannya dengan baik. Tidak tertutup dosen itu mempunyai mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Bisa ribuan atau bahkan jutaan.

Dosen pola lama atau petahana akan digantikan oleh dosen pendatang baru (new comer) yang lebih menarik, menyenangkan, kreatif, dan bekerja penuh passion. Bukan sekadar dosen pemburu honor berbasis jumlah SKS. Semakin banyak SKS semakin banyak honor. Sehingga kelas dengan SKS 3 dipecah beberapa kali pertemuan sehingga SKS menjadi 9 atau bahkan 27. Dosen ini masih berpikir analog, bukan digital. Di era normal baru, mereka akan tertinggal.

Bila era atau zaman bisa berubah maka kebiasaan pun harus berubah. Bila kebiasaan masih ingin model normal lama, padahal saat ini sudah normal baru, maka kita akan tertinggal. Untuk itu rubahlah paradigma berpikir kita sesuai dengan kemajuan zaman. Tuhan tidak akan merubah nasib sebuah kaum, bila kaum itu tidak mau merubah paradigma.

error: Content is protected !!